Oleh: haiman39 | Maret 12, 2009

Salah Polisi atau salah siapa

Kemaren hari Rabu (11/3/2009) saya melihat kejadian yang sangat aneh. Pada hari itu saya pulang malam hari sehingga sampai terminal Blok M sudah pukul 21.30 WIB. Kondisi terminal yang sudah mulai sepi penumpang mengakibatkan banyak sopir bus yang sengaja memperlambat kendaraan demi mendapatkan penumpang. Karena banyak bus yang ngetem di pintu keluar mengakibatkan antrian bis panjang seperti malam-malam sebelumnya. Antrian itu menyebabkan aparat yang mengatur kewalahan karena sopir bis yang ngetem tidak mengindahkan aparat kepolisian yang bertugas. Aparat yang sudah sangat repot ditambah ulah sopir yang susah diatur mengakibatkan menaiknya emosi aparat.
Sial pada malam hari itu bis yang saya tumpangi ternyata ada penumpang di bangku belakang yang mengatakan kata-kata menghina polisi sehingga polisi tersebut mengejar bis yang saya tumpangi kemudian memukul kenek dan meminta STNK atau akan “mengandangkan” bis nya dan seluruh penumpang disuruh turun. Karena kenek dan sopir merasa tidak bersalah mereka memepertahankan dirinya sehingga polisi semakin marah. Penumpang yang ingin buru-buru pulang ikut berdebat dengan polisi dan membela kenek sehingga terjadi kehebohan di sekitar bis. Kebetulan ada penumpang yang dari kodim ikut berbicara dengan polisi sehingga setelah beberapa saat kemudian keributan reda dan sopir bis bisa melanjutkan perjalanan ke Bintaro Kodam
Dari kisah di atas saya ada beberapa kesimpulan yang pertama, wajar saja polisi emosi mengahadapi keruwetan terminal Blok M yang pada malam hari sebagian besar adalah sopir tembak yang tidak memiliki SIM. Kedua, polisi yang sudah dilatih secara professional bisa lebih mengendalikan emosi nya sehingga bisa mengambil tindakan yang tepat. Pada kasus ini polisi menyuruh penumpang turun seenaknya tanpa memberikan solusi sehingga tidak menyelesaikan masalah yang mengakibatkan penumpang menjadi marah. Ketiga, perlu adanya peraturan yang benar benar tegas, benar dan tidak ada kong kalikong sehingga semua pihak dapat menjalankan fungsinya dengan tepat. Kondisi sekarang dimana sopir tembak bisa mengendarai bis sehingga ketika ditilang terjadi kong kalikong (damai) dan menjadi pendapatan polisi mengakibatkan sopir maupun masyarakat tidak akan pernah menghargai polisi. Keempat, sudah saatnya polisi menjadi pelayan masyarakat sehingga polisi benar-benar dicintai dan dibanggakan masyarakat.
Jangan Sampai Polisi menjadi Preman yang di Legalkan Negara dimana ketika masyarakat membutuhkan pertolongan justru menjadi kesempatan bagi polisi untuk mengeruk keuntungan. Kemana masyarakat bisa meminta pertolongan jika Aparat Negara menjadi Preman??????


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.